10 Fakta Dari Rekayasa Kesuksesan Gojek

Terungkaplagi Wednesday, July 1, 2015

Gojek.

Ah. Buat kamu yang tinggal di kota Jakarta, terlebih di kawasan Jakarta Selatan, tentu tidak asing dengan kata yang satu itu. Gojek. Bahkan, ketika menyebutnya, bisa jadi kamu langsung membayangkan pengendara-pengendara motor berseliweran mengenakan jaket dan helm hijau bertuliskan “Gojek”.
Tidak usah malu, saya pun langsung membayangkan nya setiap kata Gojek saya dengar atau sebut.
Memang, brand awareness yang luar biasa sudah berhasil dilakukan oleh Gojek. Kita harus akui itu. Namun, sudah kah kamu tahu bahwa ada rekayasa-rekayasa dibalik cerita sukses Gojek belakangan ini ?
Berbekal uang hanya dengan 30 ribu rupiah, saya berhasil membongkar rekayasa yang dilakukan Gojek.
30 ribu ? Kok murah ?
Iya. Itu adalah besaran dana yang saya keluarkan dalam “riset” saya untuk sedikit membedah Gojek dan menyampaikan informasi tersebut dalam website saya. 30 ribu adalah besaran 3 kali saya menggunakan jasa Gojek dalam masa promo ini.
Jadi ya, “hanya” dengan 30 ribu rupiah itu lah, saya membongkar rekayasa yang dilakukan Gojek.
Hah ? Rekayasa ? maksudnya apa ? Penipuan yang dilakukan Gojek ?
Rekayasa yang saya maksudkan disini adalah rekayasa sosial (Social Engineering) yang Gojek lakukan di masyarakat. Gojek berhasil mendesain, menerapkan, merekayasa tidak hanya sudut pandang sosial namun juga gaya hidup bertransportasi masyarakat. Baik itu para driver nya, maupun para pengguna jasa Gojek. Sebuah rekayasa yang, berani saya bilang, jenius…
Saya melakukan riset lapangan langsung dengan berinteraksi dengan para driver Gojek. Selama perjalanan, saya mengajak mereka bicara, berdiskusi, mendengarkan semangat dan harapan mereka. Saya menyadari, bahwa berkat rekayasa yang diterapkan, ada senyum-senyum mengembang orang-orang baik ini.
Berikut saya paparkan fakta-fakta nya

Fakta 1: Mekanisme pendaftaran Gojek

Buat kamu yang tertarik mendaftar jadi Gojek Driver, ada beberapa persyaratan khusus yang harus dipenuhi. Dari segi administrasi misalnya, calon driver harus membawa foto kopi SIM, STNK dan Kartu Keluarga ke salah satu kantor Gojek yang berlokasi di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. Setelah melengkapi administrasi, kemudian dilakukan pengecekan kondisi fisik motor lalu tes wawancara.
Kemudian setiap calon driver akan menjalani training, diantara nya soal penggunaan aplikasi Gojek Driver dalam smartphone, pelayanan pelanggan, hingga safety riding.
Selepas itu, jika diterima, akan langsung dilakukan penandatanganan kontrak. Jaket dan helm pun akan dipinjamkan. Untuk masker dan hair cover dapat diambil di kantor Gojek di Wolter Monginsidi, sedangkan handphone di kantor Gojek di jalan Ciasem.
Sungguh rekayasa sosial yang begitu santun telah dilakukan oleh Gojek. Tidak hanya mengedukasi para calon driver agar tertib administrasi, Gojek juga memberikan value terhadap para driver mengenai teknologi, customer service, hingga keselamatan berkendara.

Fakta 2: Tidak semua Gojek driver sebelumnya adalah tukang ojek

Awalnya saya juga mengira begitu. Namun, 3 dari 3 Gojek driver yang menjadi narasumber tulisan ini ternyata tidak pernah ngojek sama sekali sebelum bergabung dengan Gojek
Saya ikut Gojek awalnya karena mau dapet penghasilan buat biaya skripsi saya, Mas. Gaenak minta sama ibu soalnya saya nambah 1 tahun kuliah nya. – Kata bang Andi, Gojek yang ternyata adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila
Awalnya saya Debt Collector, nagihin hutang kartu kredit, tapi sekarang mah yang ditagih malah lebih galak. Lagipula, saya kasihan sama anak istri saya. Bulan Juni ini saya rencana mau resign dari pekerjaan nagih hutang saya. – Kata pak Syahrul, Gojek saya sewaktu ke mal ambassador. Selama perjalanan entah berapa kali beliau mengucapkan terimakasih kepada Gojek atas perubahan yang diberikan. Beliau bahkan mengaku berkat Gojek, tahun ini bisa membelikan baju baru untuk anak istri
Saya Gojek cuma malam, Mas. Kalau pagi sampai siang, saya jualan gas. Yah, lumayan mas, cari-cari 100 ribu juga malem di Gojek dapet. Hitung-hitung buat jajan anak. – Kata mas Yono, Gojek saya dari Pondok Labu ke Mampang malam itu.
Di kemudian hari saya juga berkenalan dan mendengar cerita bahwa ada Gojek driver yang berprofesi sebagai karyawan swasta, sopir pribadi, hingga ibu rumah tangga.
Selepas saya turun dari Gojek, pak Syahrul mengajak saya untuk ikut serta menjai driver Gojek. Tawaran yang cukup menggugah. Hehe.

Fakta 3: Konversi per kilometer Gojek adalah 4 ribu rupiah

Ini yang menyebabkan tarif Gojek menjadi lebih murah dari tarif ojek pangkalan. Di Gojek, tarif perkilometer sudah distandarkan. Di ojek pangkalan, tatacara penetapan tarifnya tidak jelas. Orang Jawa sering bilang tarifnya ” Mukul “. Ada yang secara kasar malah bilang tarif nya preman.
Pengalaman saya, selisih tarif antara Gojek dan ojek pangkalan bisa mencapai 15 ribu rupiah. Sayang sekali, semenjak saya merasakan naik Gojek, saya tidak pernah lagi menggunakan jasa ojek pangkalan.
Saya adalah manusia yang masih manusiawi, manusia yang juga realistis dan ekonomis. Mungkin, begitu juga dengan puluhan ribu pengguna layanan Gojek.

Fakta 4: Gojek berhasil meningkatkan pendapatan para pelakunya

“Ternyata lebih dari 70 persen waktu kerja tukang ojek hanya menunggu pelanggan, ditambah kemacetan Jakarta.”
Itu adalah pernyataan yang dikeluarkan CEO Gojek, Nadiem Makarim.
Memang benar, dengan adanya Gojek, para driver tidak perlu (melulu) ada di pangkalan. Mereka cukup memantau aplikasi Gojek yang dimiliki jika ada customer yang minta di jemput-antar. Karena tidak perlu mengetem, mangkal, maka driver Gojek memiliki efisiesnsi waktu, yang pada akhirnya meningkatkan potensi pendapatan.
Dengan begitu pula, para Driver dapat pula memanfaatkan waktunya mengerjakan hal lain. Semisal mas Andi yang berkuliah, atau mas Yono yang menjadi agen gas itu. Bisa juga misalnya mengasuh anak, menemani istri, hingga berwirausaha.
Dari hasil penelususan, pak Syahrul yang sebelumnya Debt Collector itu, memiliki pendapatan hingga 8 juta/bulan. Alhamdulillah

Fakta 5: Untuk setiap 10 customer, Gojek Driver akan mendapatkan bonus

Saya strategi nya sih, kalau pagi-siang saya ambil yang deket-deket dulu. Kalau langsung ngegas yang jauh, kita udah keburu capek. Nah, kalau malam, lumayan dah tuh 2-3 kita bisa dapet. – Kata pak Syahrul. Beliau mengaku bonus yang ditawarkan adalah 50 ribu rupiah.
Inikah alasan kenapa para driver Gojek tampak begitu bersemangat dan bahagia ?

Fakta 6: Uang dibayar perbulan adalah mitos, kenyataannya uang hasil ng-Gojek bisa diambil harian

Dari salah satu tulisan artikel yang saya baca (saya lupa, kalau tidak salah di blog seseorang/kompasiana) , disebutkan disitu bahwa salah satu keengganan ojek pangkalan bergabung ke Gojek, selain karena “alergi dengan teknologi”, adalah karena penghasilan dari Gojek baru bisa diambil bulanan seperti orang gajian kantoran.
Penulis artikel itu ternyata salah atau setidaknya kurang dalam melakukan riset.
Faktanya adalah, setiap penghasilan yang didapatkan oleh driver Gojek, langsung di debit kan ke rekening driver masing-masing. Bank yang digunakan adalah bank CIMB Niaga. Dan driver dapat mengambilnya secara harian mana suka. Pembagian keuntungannya adalah 80 untuk driver dan 20 untuk manajemen Gojek.
Fakta tersebut saya dapatkan dari cerita langsung para driver Gojek, tentu saja.

Fakta 7. Smartphone yang digunakan dan provider seluler

Kedua hal ini mungkin sering luput dari para pengguna layanan Gojek dan memang terkesan sepele: jenis smartphone dan provider seluler yang digunakan para Gojek driver adalah seragam.
Untuk smartphone, mereka menggunakan smartphone bermerek ZTE. Smartphone ini mereka angsur sebesar 7 ribu rupiah selama 100 hari atau 50 ribu rupiah selama seminggu hingga mencapai harga 700 ribu rupiah. Smartphone ini diberikan di awal ketika seseorang resmi menjadi Gojek Driver.
Sedangkan untuk provider layanan seluler nya, mungkin banyak orang tidak sadar bahwa seluruh nomor Gojek driver yang digunakan untuk menghubungi pelanggannya adalah nomor dari provider SimPATI. Nomor tersebut diberikan bersamaan dengan smartphone ZTE dan langsun diberi modal pulsa sebesar 100 ribu.
Saya pribadi masih belum menemukan jawaban kenapa harus menggunakan ZTE dan SimPATI ? Kenapa pula harus menggunakan layanan bank CIMB Niaga ?
Dugaan saya adalah terkait kerjasama investor antara Gojek dengan ketiga pihak tersebut. Walaupun memang sampai sekarang, Gojek belum memberikan keterangan resmi terkait siapa investor mereka. Layak kita nanti.

Gojek tidak hanya membentuk perilaku dan tatacara baru kepada para driver nya, namun juga menumbuhkan gaya hidup baru tentang cara masyarakat bertransportasi, khususnya ojek. Klik disini untuk melihat tulisan sebelumnya.
Dan di artikel ini, kita berbicara tentang Gojek dengan lebih personal. Mulai dari gesekan sosial yang mulai terjadi, juga tentang figur dibalik kesuksesan Gojek, Nadiem Makarim.
Dan, siapa sangka, bahwa ada begitu banyak driver Gojek yang ternyata adalah wanita-wanita tangguh ?
Mari kita mulai bercerita…
… … …

Fakta 8. Terjadi gesekan sosial antara gojek dengan ojek pangkalan

Tentu saja kemudahan yang ditawarkan Gojek membuat cepat atau lambat akan lebih banyak masyarakat lagi yang memanfaatkannya. Secara langsung ini juga berakibat berkurangnya pelanggan ojek di pangkalan. Alih-alih berjalan ke depan gang untuk mencari ojek, sekarang masyarakat tinggal mengklik aplikasi Gojek, dan minta dijemput-antar ke tempat tujuan.
Beberapa kali gesekan pun terjadi antara kedua pihak ini. Kuningan City, Kalibata City, Stasiun Tebet, Manggarai, hingga kampus Depok UI menjadi tempat perseteruan nya. Hasil pengamatan saya, pernah dalam suatu kali para driver Gojek dari berbagai wilayah datang beramai-ramai konvoi ke kampus Depok UI. Tujuan mereka adalah mencari pelaku tukang ojek yang memukuli rekan Gojek mereka.
Alhamdulillah, bentrokan dapat dihindarkan. Kedua pihak pun sepakat berdamai dan menyusun perjanjian. Di tempat-tempat yang disepakati, Gojek dihimbau tidak mengambil penumpang dan hanya boleh mengantar agar tidak mengambil rezeki ojek pangkalan.
Manajemen Gojek pun membantu para driver nya dengan menetapkan zona-zona “merah”. Para driver diminta untuk lebih bijaksana dan berhati-hati untuk mengambil penumpang di daerah-daerah tersebut. Para penumpang pun tampaknya bijak untuk menyusun perjanjian dengan driver Gojek-nya agar bertemu di tempat yang disepakati agar “menghindari” ojek pangkalan.
( Update : Gojek sudah menyediakan asuransi untuk para driver dan pengguna jasanya, namun belum ada pengumuman secara resmi )
Kenapa para penggiat ojek pangkalan ini tidak berminat bergabung dengan Gojek
Hasil diskusi saya dengan para driver Gojek berhujung pada 4 kesimpulan sebagai berikut
  • Anggapan bahwa pendapatannya dibayar per bulan
  • Kemalasan menggunakan teknologi (smartphone dan aplikasi)
  • Pembagian keuntungan 80-20 yang dirasa mengecilkan pendapatan harian
  • Ketiadaan administrasi identitas diri  untuk pendaftaran
  • Usia yang sudah terlalu tua
Untuk bagian pendapatan, seharusnya sudah bisa dijelaskan lewat tulisan saya ini. Untuk administrasi dan identitas diri, saya tidak bisa banyak berkomentar. Sedangkan untuk faktor kemalasan…. saya malas berkomentar.
Untuk faktor usia ? idealnya dengan ikut Gojek, para senior citizen ini justru bisa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah alih-alih di pangkalan ojek, merokok dan bergosip.

Fakta 9. Tidak semua driver Gojek adalah pria

Berdasarkan obrolan saya dengan para driver Gojek, menariknya, profesi ini tidak didominasi kaum pria saja. Sudah banyak wanita yang beralih menjadi driver Gojek.
Konon, sudah lebih dari 50 driver Gojek adalah wanita. Salah satunya adalah Hasanah, 28 tahun, wanita berhijab yang sebelumnya adalah kasir minimarket. Sekarang, berkat Gojek, Hasanah setidaknya bisa mengantongi hingga 6 juta rupiah per bulan. Padahal sebelumnya gaji tetapnya adalah 2,5 juta rupiah per bulan.
Soal suka-duka, menurutnya sebagai driver perempuan tak menemui banyak duka. Niat mencari nafkah untuk dua buah hatinya mengalahkan segalanya.
“Yah, kalau duka sih jalanin aja. Paling jauh bisa nganter penumpang sampai Bekasi, kadang juga kerja sampai tengah malam. Oiya, kadang dukanya juga kalau bawa penumpang-penumpang yang gemuk,” celetuknya sambil terkekeh.

Fakta 10: Awalnya dikira milik asing, kenyataannya karya anak bangsa yang membanggakan

Entah karena kita yang memang terbiasa rendah diri sebagai bangsa atau apa. Namun, segala kecanggihan Gojek sempat memunculkan banyak anggapan bahwa Gojek “bukan Indonesia”. Faktanya adalah, CEO Gojek, Nadiem Makarim adalah orang Indonesia.
Meningkatkan pendapatan para tukang ojek di Jakarta adalah mimpi Nadiem.
Jangan-jangan kita ini salah kaprah karena melihat bahwa, Grab Bike, kompetitor Gojek berasal dari Malaysia. Sehingga mengira bahwa Gojek pun bukan milik orang Indonesia. Mas Nadiem malah pernah berkata bahwa GrabBike hanya bisa meniru layanannya yang telah ia sediakan sejak 2011 di Jakarta.
“Layanan yang dari Malaysia itu, GrabBike, hanya bisa meniru. Bahkan warna helm dan jaketnya sama seperti kita,”
Memang, Nadiem bukan lah lulusan kampus di Indonesia. Beliau adalah lulusan Master of Business Administration dari Harvard University. Iya, Harvard yang itu. Sebelumnya beliau berkuliah di Brown University, juga di Amerika dan lulus SMA di Singapura.
Walaupun lulusan sekolah luar negeri, mimpi Nadiem untuk membantu bangsanya dapat kita teladani.
Mau tahu fakta yang lebih mengagetkan lagi ? Nadiem Makarim bisa dibilang berasal dari Pekalongan, kota kelahiran bapak nya yang berprofesi sebagai pengusaha, sama seperti saya, yang juga dari Pekalongan. Bapak saya pun pengusaha. Hehehe.
Gojek
Semoga saya bisa mengikuti jejak mas Nadiem. Aamiin.

Setelah ini seperti apa, Gojek ?

Dengan membludaknya permintaan untuk mendaftar Gojek, ada kekhawatiran bahwa kedepannya pendapatan driver akan turun karena tingginya kompetisi. Walaupun, berdasarkan hasil diskusi saya, dengan 10.000 driver pun, hanya 70% pelanggan Gojek yang mampu dilayani.
(Update : Gojek sudah ada di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali dan jumlah driver sudah mencapai 20.000)
Gojek memang tidak hanya menyediakan jasa transportasi manusia, namun juga pengiriman paket, dan pemesanan makanan, sehingga para driver bisa tersebar melayani hal-hal tersebut.
Gubernur DKI Jakarta juga menginisiasi integrasi Gojek sebagai feeder dengan layan an Transjakarta dan MRT sehingga ke depannya, para driver Gojek dapat memiliki potensi penghasilan yang rutin. Selain itu, gagasan serupa juga muncul dari pemda-pemda daerah lain. Malah ada usulan agar Gojek juga segera merambah layanan transportasi roda empat.
Ada kekhawatiran lain memang, misalnya dari sisi sosial. Kemungkinan gesekan yang lebih besar dengan ojek pangkalan akan terjadi. Karena sudah tabiat masyarakat akan cenderung memilih hal yang lebih baik dan memudahkan mereka.
Dari informasi driver Gojek yang saya ajak diskusi, momen mudik hari raya Idul Fitri, juga bisa dimanfaatkan. Dengan membawa helm, jaket, dan smartphone nya, para driver tetap bisa mencari uang selama di kampung halaman.
Dari sisi pendidikan, saya yang seorang guru memiliki gagasan, agar alih-alih diantar-jemput ke sekolah dengan mobil-mobil-besar-berpenumpang hanya-dua-dan-menyebabkan-kemacetan , bagaimana kalau para orangtua yang rumah nya tidak terlalu jauh dari sekolah anaknya, memanfaatkan layanan Gojek ? Mungkin Gojek justru harus menjemput bola.
Saya termasuk orang yang pro dan optimis terhadap keberadaan Gojek. Saya berdoa semoga mas Nadiem dan manajemen Gojek senantiasa diberikan kemampuan, kesehatan, dan kesejahteraan untuk terus memberi manfaat lewat Gojek.
Semoga muncul Nadiem-Nadiem lainnya. Apalagi orang Pekalongan.

Artikel Terkait Fakta ,Inspiratif ,Unik

Blogger Template by BlogTusts Sticky Widget by Kang Is Published by GBT.

No comments:

Post a Comment